Ritual Yabusame di Meiji Jingu Digelar pada 3 November
Redaksi · Gorcian
31 Okt 2026, 06:00 WIB · Bahasa Indonesia
Yabusame di Meiji Jingu akan berlangsung pada 3 November 2025 di Tokyo, Jepang. Japan Equestrian Archery Association menghadirkan pertunjukan panahan berkuda yang mencakup ritual, latihan lintasan, penembakan persembahan, hingga kompetisi ketepatan memanah.
Japan Equestrian Archery Association akan menggelar pertunjukan panahan berkuda tradisional atau yabusame di Meiji Jingu, Distrik Shibuya, Tokyo, pada Senin, 3 November 2025. Kegiatan ini memadukan keterampilan menunggang kuda dengan kemampuan memanah sambil bergerak. Acara tersebut memiliki sejarah panjang karena pertama kali diselenggarakan pada 1932, sebelum sempat terhenti akibat Perang Dunia II dan kembali berlangsung pada 1953.
Lintasan Yabusame di Tengah Hutan
Pertunjukan ini berlangsung di lintasan berkuda yang berada di bagian barat area terbuka kompleks kuil Meiji Jingu. Kawasan tersebut dikelilingi hutan lebat dan pepohonan pinus, sehingga memberikan suasana alami bagi para peserta dan penonton. Pemandangan pemanah yang melesat keluar dari antara pepohonan, kemudian menghilang kembali ke dalam hutan, menjadi salah satu daya tarik acara.
Lintasan yang digunakan memiliki panjang sekitar 218 meter, sesuai ukuran resmi yang disebutkan dalam sumber. Jarak tersebut menjadi tantangan tersendiri karena peserta harus mengendalikan kuda yang berlari cepat sambil menjalankan tugas memanah. Anda dapat melihat perpaduan kemampuan berkuda, ketepatan membidik, dan koordinasi gerakan dalam rangkaian kegiatan ini.
Rangkaian acara dijadwalkan dimulai pukul 13.00 waktu setempat dengan memasuki arena berkuda. Sepuluh menit kemudian, peserta menjalankan Tencho chikyu no shiki, yaitu ritual yang memuat doa untuk perdamaian dunia, hasil panen yang melimpah, dan kesehatan masyarakat. Dalam prosesi tersebut, seorang pemanah di atas kuda mengarahkan busurnya ke langit dan tanah sebagai bagian dari ritual.
Tahapan Pertunjukan dan Kompetisi
Aktivitas berkuda dimulai pada pukul 13.15 setelah bunyi genderang pembuka. Tahap pertama adalah subase, yakni putaran uji lintasan ketika pemanah menunggangi kuda dengan kecepatan penuh tanpa melepaskan anak panah. Tahap ini berlangsung satu putaran.
Berikutnya, peserta menjalankan hosha atau penembakan persembahan. Dalam sesi ini, pemanah melepaskan anak panah sebagai persembahan kepada para dewa dengan total empat putaran. Setelah itu, kyosha mempertemukan peserta yang meraih hasil terbaik pada tahap hosha untuk bersaing mendapatkan jumlah sasaran yang terkena paling banyak. Kompetisi ini berlangsung antara satu hingga tiga putaran.
Seluruh aktivitas berkuda dijadwalkan berakhir pada pukul 14.50, ditandai dengan bunyi genderang penutup. Lima menit kemudian, acara dilanjutkan dengan Gaijin no shiki atau upacara kemenangan. Dalam prosesi tersebut, pencapaian pemanah dengan penampilan terbaik diperiksa. Ritual ini juga menjadi simbol pemeriksaan terhadap roh jahat yang telah ditumpas.
Pada pukul 15.10, pengunjung mendapat kesempatan mengikuti sesi pertemuan dengan para pemanah. Informasi mengenai biaya masuk, mekanisme pendaftaran, dan ketentuan khusus bagi pengunjung belum dijelaskan sumber.
Mengenal Yabusame
Yabusame merupakan seni panahan berkuda tradisional Jepang yang menggabungkan kemampuan mengendalikan kuda dengan keterampilan melepaskan anak panah. Dalam praktiknya, pemanah harus menjaga keseimbangan di atas kuda yang bergerak sambil mengarahkan bidikan ke sasaran.
Olahraga ini membutuhkan koordinasi antara penunggang, kuda, dan gerakan memanah. Kecepatan kuda serta kondisi lintasan turut menjadi tantangan bagi peserta. Dalam acara di Meiji Jingu, yabusame juga hadir sebagai bagian dari rangkaian ritual yang memuat doa dan prosesi seremonial.
Melalui kegiatan pada 3 November tersebut, pengunjung dapat menyaksikan perpaduan tradisi, keterampilan berkuda, dan panahan Jepang dalam satu rangkaian acara. Susunan kegiatan dari ritual pembuka hingga upacara kemenangan memperlihatkan bahwa yabusame tidak hanya menampilkan kemampuan olahraga, tetapi juga memiliki unsur seremonial yang kuat.
Sumber: Japan Today, 27 Oktober 2025
Berita Terkait
Terpopuler
- Berkuda memanahAsakusa Yabusame, Tradisi Panahan Berkuda dari Zaman Edo
- Tent peggingTim Nasional Oman Lolos ke Final Piala Dunia Tent Pegging
- Panahan tradisionalSiswa SD Maros Raih Juara II Panahan Tradisional Sulsel
- TenisCarlos Alcaraz Juara Japan Open Usai Pulih dari Cedera
- PadelGermany P2 2026 Memasuki Babak 16 Besar, Para Unggulan Mulai Bertanding
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.